Home / Berita / FKRMP Belajar Manajemen Masjid ke Jogokariyan

FKRMP Belajar Manajemen Masjid ke Jogokariyan

Rombongan Forum Komunikasi Remaja Masjid Penaruban (FKRMP), Sabtu malam 22 April 2017 berangkat ke Jogjakarta untuk belajar manajemen masjid di Masjid Jogokariyan  Jogjakarta.

Rombongan tiba di lokasi minggu  23 April, pukul 03.00 Wib. Sampai di lokasi nampak beberapa bus besar dan mobil pribadi terparkir di halaman masjid dan pekarangan Samping masjid. Rupanya selain rombongan FKRMP sudah ada  rombongan lain dari Madiun, Semarang, Purwokerto dan Lampung yang berniat sama untuk menimba ilmu di Jogokariyan.

Memang Masjid Jogokariyan selama ini terkenal dengan manajemen pengelolaan masjid yang bagus dan memiliki strategi  tersendiri dalam memakmurkan masjid.

masjid-jogokariyan-1

Keterangan Foto : Rombongan Forum Komunikasi Remaja Masjid Penaruban (FKRMP), belajar manajemen masjid di Masjid Jogokariyan  Jogjakarta.

Berikut cerita singkat tentang Masjid Jogokariyan yang kami peroleh saat kunjungan kemarin ;

Mengapa Diberi Nama Masjid Jogokarian ?

Masjid Jogokariyan merupakan sebuah masjid yang didirikan di daerah Jogokarian Jogjakarta. Masjid ini sengaja diberi nama sama dengan nama kampung dan tidak mengambil nama islami seperti masjid pada umumnya yang mengambil nama Al Hidayah, Al Iman, An Nur atau nama nama islami lainnya.

Menurut salah seorang Tamir Masjid Jogokarian penamaan   Jogokarian Meniru Rasulullah, sebab Rasululloh memberi nama masjid yang pertama sama dengan nama kampung yaitu masjid Nabawi.

Di Jogjakarta tidak hanya Masjid Jogokarian yang diberi nama sama dengan nama kampung. Ada beberapa masjid lain seperti Masjid darunegara yang berada di kampung Darunegara.  Masjid ngadinegara, berada di kampung Ngadinegara.  Masjid Ngadidanu yang berada ditengah Tengah kampung Ngadinegara dan kampung Darunegara.

Manajemen Masjid Jogokarian

Penamaan masjid Jogokarian sama dengan nama kampung juga merupakan salah satu bagian dari manajemen masjid, yang dimaksudkan untuk menentukan batas wilayah dawah dan skala prioritas dalam berdawah.

Manajemen masjid kedua yang diterapkan oleh Masjid Jogokarian yaitu Pendataan. Tamir masjid melakukan pendataan warga sekitar masjid setiap 4 tahun sekali. Dari hasil pendataan ini, akan dibuat klasifikasi seperti klasifikasi warga yang belum mengerjakan sholat, warga yang sudah melaksanakan sholat tapi belum pernah ke masjid untuk berjamaah dan warga yang sudah rajin berjamaah ke masjid.

Adapula klasifikasi berdasarkan kemampuan ekonomi warga.
Pendataan dan pengklasifikiasian ini dimaksudkan untuk menentukan rencana program, strategi dan peta dawah yang akan dilaksanakan dengan disesuaikan dengan kondisi warga.

Sebagai contoh, untuk warga sekitar masjid yang belum melaksanakan sholat, maka tamir masjid melakukan pendekatan secara personal, untuk menanyakan penyebabnya. Apabila penyebab belum melaksanakan sholat karena belum bisa, maka tamir masjid akan memberikan pembelajaran tentang tata cara sholat. Apabila warga masih merasa malu untuk datang ke masjid dan belajar islam dari dasar, maka warga bisa berkelompok di rumah salah satu warga dan tamir masjid yang mendatangi mereka.

Sedangkan untuk mengatasi persoalan, warga yang belum mau ke masjid karena alasan sibuk mencari nafkah dan karena keterbatasan Ekonomi, maka tamir masjid Jogokarian memberikan paket sembako untuk membantu meringankan ekonomi warga. Pada setiap hari jum’at, masmid Jogokaryan juga memiliki program sedekah makanan yang diwujidkan dalam bentuk membagikan 350 nasi bungkus kepada yang membutuhkan.

Prinsipnya, keberadaan masjid  harus  mampu memberikan solusi kepada masyarakat. Seringkali tamir masjid hanya ngurusi dan memberikan da’wah kepada warga yang (sudah) datang ke masjid. Dan masih sangat jarang ta’mir masjid yang mengajak, menyadarkan orang untuk mau datang ke masjid.

Manajemen masjid yang ketiga yaitu Sosialisasi dan Publikasi Program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh tamir masjid senantiasa di sosialisasikan dan dipubliiasikan kepada warga. Publikasi progrqm dan kegiatan juga dimqksudkan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pihak pihak yang telah memberikan amanah. Publikasi juga bisa memotivasi warga dan pihak lain untuk turut mendukung program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh ta’mir Masjid Jogokariyan.

Publikasi dikemas dalam bentuk yang menarik dengan media buletin maupun LCD yang dipasang di halaman masjid dengan memcantumkan pula kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh warga Jogokariyan.

masjid-jogokariyan-2

Keterangan Foto : Salah satu bentuk Publikasi kegiatan   masjid Jogokariyan.

Kegiatan yang Menarik Untuk Remaja

Pada dasarnya masa  remaja merupakan  masa pertumbuhan, jadi remaja biasanya tertarik dengan kegiatan yang ada makannya. Untuk itu disetiap kegiatan baik pengajian maupun pertemuan remaja di masjid Jogokaryan selalu ada makanannya.

Remaja juga senang dengan kegiatan yang bersifat rekreatif. Jadi membuat kegiatan untuk remaja harus menarik dan ada unsur rekreasi dan kreatif.  Sebagai contoh, Masjid Jogokaryan menggelar pengajian untuk remaja dengan tajuk “Pengajian Angkringan”.  Pengajian ini digelar di halaman masjid dengan mengundang pedagang Angkringan ean peserta pengajian duduk santai sambil menikmati angkringan. Bahkan konsep pengajian seperti ini menarik salah satu stasiun televisi Nasional untuk mengontrak Masjid Jogokarian dalam acara Angkringan Hikmah Fajar yang ditayangkan pada bulan Suci Ramadhan.

Guna menepis anggapan bahwa “kalau aktif di masjid akan ketinggalan pelajaran sekolah”,  maka masjid Jogokariyan membuat kegiatan yang menunjang pelajaran sekolah dengan belajar bareng (pendidika  sebaya) di lingkungan masjid. Tidak hanya pelajaran sekolah, di masjid Jogokariyan juga pernah diselenggarakan pembelajaran tentang disain grafis dan Corel draw.

Tamir Masjid Jogokariyan juga memberikan reward kepada anak anak yang aktif di masjid dan mempunyai prestasi di sekolah, hal ini untuk menghilangkan imej kalau aktif di masjid sekolahnya kacau.  (*Ibar)

About Baryati Kusnadi

Tertarik untuk membuat catatan disetiap perjalanan yang bisa digunakan sebagai pengingat diri sendiri. Dan semoga bisa memberi manfaat buat yang membaca. Buat obyek yang ditulis semoga bisa memberi dampak positif.

Check Also

Taman Hexagone Spot Foto Terbaru di Banyumas

Semakin maraknya penggunaan sosial media utamanya facebook dan instagram dikalangan anak-anak muda maupun ibu-ibu muda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *