Home / Wisata / Seni, Budaya & Tradisi / Mitos Larangan Menutup Sumur

Mitos Larangan Menutup Sumur

Hari ini saya berkesempatan datang ke suatu tempat (atas permintaan beberapa orang, nama tempat tidak dipublikasikan). Memasuki ruangan gedung yang dibangun pada tahun 2009 secara permanen, disudut ruang tamu nampak lubang yang ditutupi plat.

Ketika saya bertanya, beberapa orang menjawab, lubang tersebut adalah sumur yang berdiameter sekitar 60cm dengan kedalaman kurang lebih 15 meter. Dan sumur tersebut masih ada airnya, tetapi sudah tidak dimanfaatkan. Konon sumur tersebut sudah ada sejak lama sebelum gedung tersebut dibangun. Ada yang mengatakan sumur tersebut dibuat pada tahun 1999, jadi sekitar 10 tahun sebelum gedung dibangun.

Spontan saya menanyakan “pada saat akan membangun gedung, ketika tahu ada sumur yang nantinya masuk di dalam area gedung yang akan dibangun, apalagi posisinya di ruang tamu,mengapa sumurnya tidak ditutup atau diurug terlebih dahulu?”

Beberapa orang menjawab saling bersahutan, salah seorang mengatakan “akan menimbulkan bahaya kalau sumurnya diurug”. Dalam benak saya berfikikir, bukankah justru berbahaya pada posisi saat ini,  sumur dibiarkan tidak diurug hanya ditutupi plat dan masih terlihat lubang disela sela plat, berada dipojokan ruang tamu.

Yang lain mengatakan “kalau sumurnya diurug nanti sering mimpi buruk”

Sementara salah seorang mencoba menjelaskan “sumur digali dengan kerja keras, membutuhkan pengorbanan tenaga dan biaya. Menggali sumur merupakan upaya untuk menggali sumber mata air sebagai sumber penghidupan. Menggali sumur sama dengan menggali sumber penghidupan. Jadi masyarakat disini masih banyak yang meyakini mitos bahwa menutup sumur yang masih ada airnya (sumur hidup) sama dengan menutup sumber penghidupan (sumber rizqi)”.  Untuk itu, disini ada larangan menutup sumur yang masih hidup “Ora ilok”.  (*Budhe)

About Baryati Kusnadi

Tertarik untuk membuat catatan disetiap perjalanan yang bisa digunakan sebagai pengingat diri sendiri. Dan semoga bisa memberi manfaat buat yang membaca. Buat obyek yang ditulis semoga bisa memberi dampak positif.

Check Also

​”Sorogan” Cara Warga Desa Mengundang Orang yang Dihormati

“Sorogan” merupakan ungkapan dalam bahasa Jawa, berasal dari kata Sorog yang dalam bahasa Indonesia mengandung …

3 comments

  1. Sumur dan misterinya. Jadi ingat Sumur Gumuling di Jogja.

  2. Orangtua dulu cenderung menakut-nakuti untuk melarang kita melakukan sesuatu.
    Perlu kerendahan hati untuk belajar kearifan orang tua dahulu melarang sesuatu hal, karena biasanya ada makna dibaliknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *